You are currently browsing the monthly archive for July 2008.

Sudah hampir dua bulan terakhir ini saya sering bolak-balik ke sardjito untuk membantu Uwa berobat. Beliau menderita kanker payudara, stadium akhir. Sebagai dokter, ini benar-benar pukulan berat buat saya, bagaimana mungkin, kami yang hidup didunia kesehatan, di kampung selalu memberikan pengobatan untuk orang lain, tetapi tidak bisa mendeteksi saudara sendiri kena kanker payudara. Uwa sangat khawatir penyakitnya itu akan merepotkan orang lain.

Maka ketika kami tahu kalau Uwa kena kanker payudara dan sudah stadium akhir, kami cuma bisa menangis. There’s nothing we can do. Apalagi setelah hasil pemeriksaan menunjukkan penyebaran ke tulang dan mulai ke paru. Lemas sudah. Apalah artinya aku sekolah lama-lama, bahkan sampai keluar negeri, kalau mengobati saudara sendiri saja tidak bisa. Bibi dan Om yang serumah dengan uwa lebih terpukul lagi, mereka yang sehari-harinya mengajar kesehatan, mengobati pasien, tetapi tidak sadar kalau anggota keluarganya sakit. Kesibukan kadang membuat kita lupa bahwa ada yang harus lebih diperhatikan.

Saya sendiri bertemu Uwa baru setahun yang lalu, ketika melepas keberangkatanku di cengkareng, saat itu Uwa nampak sehat-sehat saja. Padahal gejalanya sudah dirasakan sejak 6 tahun yang lalu, tapi ya itu dibiarkan saja. Sampai akhirnya kankernya pecah dan menimbulkan bau busuk karena jaringan yang mati.

Kanker payudara sangat mungkin diobati sampai sembuh! Asalkan belum menyebar. Teknologi pengobatan saat ini sangat maju, obat-obatan pun sudah bervariasi. Jadi membiarkan kanker payudara sampai parah, itu benar-benar keputusan bodoh.

Buat teman-teman wanitaku, atau yang masih punya ibu, sudah beristri, punya kakak perempuan yang usianya sudah >35 tahun tolong dong… mereka diingatkan untuk perhatian akan dirinya sendiri, lakukan SADARI (periksa payudara sendiri), kalau ada cukup uang dan waktu lakukan mammografi tiap 3-5 tahun. Pepatah yang selalu bermanfaat: lebih baik mencegah daripada mengobati. Tidak ada gunanya untuk malu memeriksakan payudara. Sesal kemudian tak ada arti. Jika khawatir biaya, percayalah, banyak jalan menuju sehat, insyaAllah…….

Siang ini denger lagu “i believe in you”-nya Celine Dion dan Il Divo, duh… enak bener di kuping…. kuputer 2 kali berusaha meresapi maknanya. Begini liriknya:

Lonely, the path you have chosen
A restless road, no turning back
One day you will find your light again
Don’t you know? Don’t let go, be strong.

Follow your heart
Let your love lead through the darkness
Back to a place you once knew
I believe, I believe in you
Follow your dreams
Be yourself an angel of kindness
There’s nothing that you cannot do
I believe, I believe, I believe in you

Mau tidak mau kita pasti akan sering menghadapi rintangan dalam hidup, apakah itu sesuatu yang menyedihkan atau menyenangkan. Kadang suatu “aha” moment pun bisa jadi beban bagi kita, jika kita mau berpikir panjang. Dan disaat-saat begini, seorang teman yang mau mendengarkan cerita dan memberikan saran-saran, menunjukkan sisi positifmu, memberitahu apa yang bisa kamu lakukan, atau bahkan cuma sekedar mendengarkan pun, menjadi sangat-sangat-sangat penting. :) we are in a social world

Tetapi ada saatnya ketika tidak ada seorangpun yang kau percaya disampingmu, meskipun teknologi sekarang memaksamu untuk selalu berada disekitar orang lain. Kalaupun ada, kadang kala kau ingin meresapi masalahmu sendiri, melihatnya lebih dekat dan menemukan sisi cerahnya. Nah, disaat-saat begini sebaiknya dengerin lagu-lagu penumbuh semangat seperti lagu Il Divo tadi. Resapi kata-katanya, dan bersyukurlah karena mereka tidak akan bosan menyanyikan senandung penuh semangat untukmu.

Just like me today, I got “aha” moment last night, and can’t stop thinking about it till this noon, but then i heard this song and realized, feels like another “aha” moment, but in a positive way. So, I would sing it this way…there’s nothing that i can not do, i believe..i believe…i believe in me…

Akhir-akhir ini sering sekali mataku terasa sulit fokus, terutama jika kelelahan atau setelah baca lama atau didepan laptop lama. Mata bisa berair dan sulit sekali untuk kembali fokus. Kalau sudah begitu, biasanya kupake tidur saja. Tapi ketika lagi banyak kerjaan, nggak bisa dong enak-enak tidur hehe.

Akhirnya datanglah aku ke dokter mata, meskipun setengah yakin kalau mataku baik-baik saja, tapi untuk memastikan nggak ada salahnya. Daftar jam 3 sore, ditinggal dulu jalan-jalan, dipanggil perawat jam 5.30 dan dipanggil dokter jam 6.30. Waiting time….hmm…. 3.30 jam hiks… saat dipanggil udah setengah tidur aku.

Visusku masih 6/6.. alhamdulillah.. TIO juga 11/12..alhamdulillah…. berarti emang load nya aja yang berlebihan. Ketika mata bekerja berlebihan, retina kita akan oedem (bengkak karena terlalu banyak cairan) akibatnya cahaya yang diterima saraf tidak bisa atau sulit difokuskan. blur gitu… :D Nama medisnya asthenopia. Ada juga yang menyebut Computer Vision Syndrome.

Terapinya paling mudah mata diistirahatkan setiap 1 jam, apakah itu dengan memejamkan mata sejenak.. (bukan tidur loh), atau mengalihkan perhatian dari buku/layar komputer, memandang jauh lewat jendela misalnya… supaya yang tadinya otot mata yang dipaksa fokus jarak dekat terus sedikit longgar karena jadi fokus jarak jauh.

Yah… syukurlah ga jadi keluar duit buat beli kacamata, alhamdulillah juga dapet potongan Rp.40.000,- separuh tarif periksa, maklum sesama dokter dilarang men-charge mahal-mahal hehehe.

Siang ini saya mengikuti peer-review salah satu paper mas Yodi, tentang cost effectiveness program Public-Private Mix TB di Jogja yang melibatkan praktisi swasta (dokter-dokter swasta). Ternyata salah satu audience-nya adalah Ben John, pakar health economic dari US.

Saya sempat lupa-lupa ingat, hmm… apa ini bener Ben John? Kemudian tanya ke teman, itu Ben ya? Yup, you’re right! Saya terakhir ketemu Ben kira-kira 2 tahun lalu, karena sempat satu mobil dalam perjalanan dari Solo ke Jogja. Selama perjalanan kita sempat ngobrol-ngobrol banyak, salah satunya adalah ketertarikan saya akan masalah strengthening health system. Kita diskusi mengenai masalah health system sampai pendidikan ke arah itu.

Selama acara saya bahkan tidak menyapanya, cuma sekedar tersenyum dan menundukkan kepala. Tapi diakhir acara, karena masih ingin bicara dengan mas Yodi, saya tidak langsung meninggalkan tempat. Tiba-tiba Ben menyapa, dan langsung bertanya

“How are you? Are you still interested to strengthening your health system?”

I said, “sorry?”

Ben: “are you still interested in health system?”

Me: “ah! of course, i’m already taking course on health system, bla..bla…bla…” Happy mode hehe

Saya sama sekali nggak menyangka, seseorang sekaliber Ben, masih ingat kata-kata seorang Sasi, yang menurutku, nggak penting buat dia. Sementara saya bahkan lupa wajahnya.

Ini adalah satu pelajaran penting yang kupelajari hari ini. Betapa perhatian kecil semacam itu bisa mengingatkan aku akan pentingnya menjaga fokus ke arah cita-cita atau tujuan karir. Selama ini saya mudah sekali melupakan hal-hal kecil tentang orang lain, ditambah bakat pelupa hehe.. tapi mungkin dengan memulai menulis diary/blog, dan menulis sesuatu yang berkesan tentang orang lain akan memudahkan saya untuk mengingat “keajaiban-keajaiban kecil” orang lain dan membuat orang lain mengingat kembali “keajaiban”nya di masa lalu hehehe….

Jadi mudah-mudahan dengan menyisakan waktu 30 menit – 1 jam perhari untuk menulis pengalaman sehari-hari bisa membantuku mengingat hal-hal kecil tentang orang lain. Bukan untuk mengingat kejelekan orang lain, tetapi belajar dari pengalaman dan mengambil hikmah dari itu. Amin…..