seperti biasa tiap kali berhenti di lampu merah pasti disapa anak kecil atau remaja tanggung yang berbekal lap hitam kotor. Setiap kali pula saya melambaikan tangan, “ndak mas…ndak….”
Saya bukannya tidak mau memberikan recehan pada mereka, bukan pula karena sulit mencari dan mengambil recehan di tas, meskipun jelas ribet banget. Tapi saya rasa memberikan recehan pada mereka TIDAK MENDIDIK sama sekali.
Jika kuberi maka mereka akan berfikir bahwa memang benar uang bisa dicari dengan mudah. Tinggal berdiri di tepi jalan, pasang tampang memelas, memaksa membersihkan motor tanpa ijin, dan juga berbohong. Nah, masalah berbohong ini yang paling bikin aku emosi. Pernah waktu antri bayar Damri bandara di Bogor, saya didatangi seorang anak kecil yang wajahnya tampak segar, tapi dengan menadahkan tangan bilang “mbak minta mbak… saya belum makan dari kemarin… mbak minta mbak…..” Lalu kupandangin wajahnya…. dia tidak tampak lemas sama sekali, biasa saja, jadi jelas dia bohong kalau belum makan dari kemarin. Tidak juga kurus kering, atau buncit karena kurang gizi. Akhirnya yang ada emosi…. sial! anak sekecil itu sudah berbohong berkali-kali, entah berapa kali dia berbohong dalam sehari. Gimana kalau besar nanti. Lalu solusinya apa? Kalau diberi uang, maka dia tahu kalau dia bisa mendapat uang dengan berbohong. Makin pintar dia berbohong, makin besar uang yang bisa dia dapat. Nggak heran kan kalau jaman sekarang banyak sekali orang yang bisa menipu sampai bermilyar-milyar, siapa tahu waktu kecilnya mereka ya seperti itu…. sibuk dengan kebohongan-kebohongan kecilnya.
Seorang gadis yang dibonceng teman lelakinya dengan motor didepanku memberikan uang 1000 pada remaja tanggung yang membersihkan motornya. Lampu hijau menyala, dan aku terus merenung… dan kemudian berlanjut ke itung-itungan….
Misalnya saja setiap lampu merah dia dapat 1000, 1 kali lampu merah 1,5 menit dan lampu hijau 30 detik, artinya setiap 2 menit dia bisa dapat 1000. 1 jam dia bisa dapat 30 ribu… misalnya dia berdiri disana 5 jam saja, sudah dapat 150 ribu. Padahal aku ketemu remaja tanggung itu jam 9 pagi waktu berangkat, dan jam 8 malam waktu pulang. Artinya.. dia berdiri disana selama 11 jam. Taruhlah 10 jam dia beraksi… berarti dia dapat 300 ribu perhari… per bulan… 9 juta perbulan.. GILA!
Pantesan jumlah anak jalanan nggak pernah berkurang, justru bertambah, karena memang lahan yang sangat-sangat menggiurkan… Aku yang kuliah bertahun-tahun, dokter pula, nggak sampai segitu. Gila banget emang…
Jadi menurutku, jangan lah memberikan sedekah pada orang-orang seperti itu. Remaja tanggung yang masih bertenaga, anak-anak yang seharusnya bermain bola dilapangan, bukan bermain kartu ditepi jalan. Ibu-ibu yang sengaja memaparkan anak-anaknya pada carbon aktif dari asap knalpot yang jelas-jelas bisa menurunkan kualitas dan performa sel-sel otak.
Kalau mereka sadar bahwa mencari uang di jalanan bukan solusi yang tepat, pastilah mereka akan mencari jalan lain. Dan aku yakin sekali jalan yang lebih baik itu banyak. BANYAK.
Jika ingin bersedekah… bersedekahlah pada orang-orang yang lebih jelas membutuhkan. Mungkin saudara-saudara terdekat yang sering kita abaikan. Mungkin nenek-nenek pemulung yang sering lewat depan rumahmu. Mungkin tukang sampah… berapa sih pendapatan mereka.. pasti ndak banyak, dan jelas mereka kekurangan… saya rasa masih banyak yang lebih pantas mendapatkan sedekah tinimbang remaja-remaja tanggung itu.




2 comments
Comments feed for this article
August 11, 2008 at 8:01 am
Dodo
Ah, komen ya: solusinya sih tetap di tangan pemerintah lah ya: kan sesuai UUD anak terlantar dipelihara oleh negara, maksudnya mereka memang harus dilestarikan gitu…
hehehe, bukan solusi yah…
August 11, 2008 at 11:59 am
katasasi
hehe… iya sih.. seandainya pemerintah bisa memenuhi kewajibannya pada rakyat
aku minggu lalu (kalo ga salah) baca salah satu postingan di milis beasiswa yang isinya mencari guru sukarela buat ngajar di SMP gratis, ngajarin anak-anak jalanan. Ini solusi yang bagus sih, paling nggak mereka ada kegiatan lain yang mencerdaskan. Tapi kalau gurunya aja nggak dibayar, gimana mau mempertanggungjawabkan kualitasnya. Masak sih pemerintah nggak punya anggaran untuk membayar guru-guru sukarela…. (eh.. guru honorer di sekolah negeri yang sudah diangkat pun gajinya sering ga jelas… apalagi sekolah gratis…. jangan bermimpi di siang bolong ah….)