Di semua terminal bandara di Jakarta, ada satu meja dengan spanduk palang merah Indonesia didekat pintu ruang tunggu dalam. Saya sudah sering memperhatikan meja PMI itu setiap kali menunggu di bandara. Kadang-kadang ditunggu seorang remaja (biasanya berjilbab), tapi seringkali kosong dan digantikan kotak kaca.
Pagi ini, saya menunggu agak dekat dengan meja PMI. Ada yang lain, yang menunggu ibu-ibu separuh baya, mungkin sudah 50 tahun, berjilbab pula. Dengan semangat sang Ibu ini menawarkan kupon sumbangan PMI kepada setiap penumpang yang melewatinya dengan lantang… “palang merahnya pak, seribu rupiah….. palang merahnya bu… seribu rupiah…” Saya berusaha perhatikan raut mukanya, apakah dia kecewa kalau para penumpang itu melewatinya saja, tidak… dia segera mengalihkan pandangan matanya ke penumpang berikutnya, dan menawarkan lagi kupon PMI nya dengan semangat. Salut…. Sekaligus sedih…..
Kok sedih? Iya… karena rata-rata dari 8 orang yang melewatinya, hanya 1 yang berhenti dan memberikan uangnya. Ada yang cuma tersenyum dan menanggukkan kepala (tanda apa….entah….) yang dibalas dengan ucapan terimakasih oleh sang Ibu… (hebat!!). Ada yang berhenti tepat didepan sang Ibu, tetapi hanya mengangkat kepala untuk melihat jadwal boarding tanpa sedikitpun menengok sang Ibu. (kelompok orang kurang kerjaan, Bukannya jam boarding udah tertulis diboarding pass!!! Masih belum yakin yah…). Kelompok yang paling banyak adalah orang-orang yang terus saja berlalu, tanpa sedikit pun menoleh.
Aku heran… apakah uang seribu itu besar nilainya? Kita kalau bayar parkir seribu lepas begitu saja ndak pake mikir. Bayar parkir mobil malah lebih mahal. Beli teh botol aja seribu ga dapet… seribu gitu loh! Tapi sedikit banget yang mau berhenti dan memberikan seribuan di dompet mereka. Bapak-bapak dengan jas perlente, masak sih ga punya seribu, ibu-ibu dengan perhiasan jutaan rupiah, masak sih nggak punya seribu… Ah iya, satu lagi, yang paling banyak memberi itu justru orang-orang yang penampilannya biasa-biasa saja. Apa mungkin kalau sudah kaya jadi gengsi yah ngasih sumbangan dikit? Hiks….
PMI itu salah satu organisasi kemanusiaan yang paling solid di Indonesia, lembaga yang terpercaya, kualitasnya juga lumayan, sebagian besar anggotanya sukarelawan. Saya nggak berani membayangkan, berapa sang Ibu tadi dibayar untuk menawarkan kupon PMI. Kalau teman-teman, bapak dan ibu sudah pernah menyumbangkan darahnya ke PMI, sehingga tidak perlu lagi menyumbang uang, mungkin perlu diketahui bahwa mengolah darah sumbangan itu juga perlu dana yang besar. Untuk satu kantung darah bisa lebih dari 100 ribu rupiah. Coba berapa banyak uang yang harus disediakan PMI untuk mengolah darah yang didapat ketika mengadakan aksi donor darah massal. Nggak gratis tuh…
Udah hampir boarding… kuambil dompet dan amplop honor…. Dan mengumpulkan duit seribuan… lumayan…. ngeluarin seribuan daripada menuh-menuhin dompet. Diterima sang Ibu dengan baik dan dapet bonus senyum ☺ Bonusnya dua kali loh, plus sapaan ramah, ketika aku kudu balik lagi ke ruang tunggu karena boarding pass ku entah kemana hihihihi (sasi banget!)




No comments yet
Comments feed for this article